Tampilkan postingan dengan label Mangester Ku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mangester Ku. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Mei 2012

Tabayyun Sebelum Memutuskan Surat Al Hujurat Ayat 6


I.                    PENDAHULUAN
Sebelum memasuki kajian tentang Surat Al-Hujurat Ayat ke-6, kita perlu mengetahui arus utama kajian surat Al-Hujurat. Hal ini diperlukan untuk memotret secara tepat arah kajian ayat ini, sebelum kemudian melakukan penjelasan terhadap makna ayat agar tidak kehilangan kendali menuju orientasi yang tidak tepat.
Surat Al-Hujurat ini diturunkan setelah Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah). Sejak saat itu suku-suku yang ada di Jazirah Arab berbondong-bondong masuk Islam. Termasuk di dalamnya adalah Suku al-Musthaliq, yang di pimpin oleh al-Haris bin Dlirar. Meskipun masuknya Islam al-Harits diawali dengan sebuah peperangan, toh keislaman al-Harits ini tidak diragukan. Apalagi putrinya yang bernama al-Juwairiyah dinikahi oleh Rasulullah saw.
Surat al-Hujurat secara keseluruhan membimbing kehidupan bermasyarakat yang Islami. Surat ini mengajarkan bagaimana bersikap yang benar terhadap Rasulullah, bagaimana bersikap yang baik terhadap sesama mukmin, dan juga mengajarkan kewajiban dan tanggung jawab terhadap masyarakat Islam. Petunjuk-petunjuk tersebut bertujuan untuk menjaga dan memelihara keutuhan masyarakat Islam, dijauhkan dari kecerobohan internal umat Islam yang membahayakan masyarakat Islam.
Tak bisa dielakkan, kehidupannya manusia selalu dihadapkan pada berbagai masalah, baik pribadi maupun sosial. Tidak ada kehidupan tanpa masalah, justru dengan berbagai masalah itulah manusia hidup. Demikian juga yang dihadapi oleh kaum muslimin dan masyarakat Islam. Berbagai masalah muncul di hadapan mereka untuk dihadapi dan diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Dalam menyelesaikan masalah ini, ada satu faktor kunci yang menjadi dasar pijakan, yaitu informasi. Bagaimana pun, seseorang mengambil keputusan berdasarkan kepada pengetahuan, dan pengetahuan bergantung kepada informasi yang sampai kepadanya. Jika informasi itu akurat, maka akan bisa diambil keputusan yang tepat. Sebaliknya, jika informasi itu tidak akurat akan mengakibatkan munculnya keputusan yang tidak tepat. Dan giliran selanjutnya, muncul kedhaliman di tengah masyarakat.

II.                AYAT DAN TERJEMAH SURAT AL HUJURAT AYAT 6

“ Hai orang-orang yang beriman, jika seseorang yang fasik datang kepada kalian membawa suatu berita, maka telitilah “ ( QS. Al-hujurat (49): 6)
Al-Umm, Bab At-Tatsabbut fi al-hukm wa Ghairih[1]
III.             ASBABUN NUZUL
Ayat ini, menurut laporan Ibn ‘Abbâs, diturunkan berkaitan dengan kasus al-Walîd bin ‘Uqbah bin Abî Mu’yth, yang menjadi utusan Rasul saw. untuk memungut zakat dari Bani Musthaliq. Ketika Bani Musthaliq mendengar kedatangan utusan Rasul ini, mereka menyambutnya secara berduyun-duyun dengan sukacita. Mendengar hal itu, al-Walîd, menduga bahwa mereka akan menyerangnya, mengingat pada zaman Jahiliah mereka saling bermusuhan. Di tengah perjalanan, al-Walîd kemudian kembali dan melapor kepada Nabi, bahwa Bani Musthaliq tidak bersedia membayar zakat, malah akan menyerangnya. Rasul saw. marah, dan siap mengirim pasukan kepada Bani Musthaliq. Tiba-tiba, datanglah utusan mereka seraya menjelaskan duduk persoalan yang sesungguhnya. Lalu, Allah menurunkan surat al-Hujurat (49) ayat 6 ini.[2]
            Dalam suatu riwayat di kemukakan bahwa Al- Harits menghadap Rasulullah saw. Beliau mengajaknya untuk masuk Islam. Ia pun berikrar menyatakan diri untuk masuk Islam. Rasulullah saw mengajaknya untuk mengeluarkan zakat, ia pun menyanggupi kewajiban itu, dan berkata; “ Ya Rasulullah, aku akan pulang kekaumku untuk mengajak mereka masuk Islam dan menunaikan zakat. Orang – orang yang mengikuti ajakanku akan ku kumpulkan zakatnya.  Apabila telah tiba waktunya, kirimlah utusan untuk mengambil zakat yang telah ku kumpulkan itu. “
            Ketika Al- Harits telah banyak mengumpulkan zakat, dan waktu yang telah di tetapkan telah tiba, tak seorang utusan pun menemuinya. Al- Harits mengira telah terjadi sesuatu yang menyebabkan Rasulullah saw marah kepadanya. Ia pun telah memanggil para hartawan kaumnya dan berkata,” Sesungguhnya Rasulullah saw telah menetapkan waktu untuk mengutus seseorang untuk mengambil zakat yang telah ada padaku, dan beliau tidak pernah menyalahi janjinya. Akan tetapi saya tidak tahu mengapa beliau menangguhkan utusannya itu. Mungkinkah beliau marah? Mari kita berangkat menghadap Rasulullah saw.
            Rasulullah saw, sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, mengutus Al- Walid bin Uqbah untuk mengambil dan menerima zakat yang ada pada Al- Harits. Ketika Al-Walid berangkat, di perjalanan hatinya merasa gentar, lalu ia pun pulang sebelum sampai ketempat yang dituju. Ia melaporkan (laporan palsu) kepada Rasulullah saw bahwa Al-Harits tidak mau menyerahkan zakat kepadanya, bahkan mengancam akan membunuhnya.
            Kemudian Rasulullah saw mengirim utusan berikutnya kepada Al-Harits. Ditengah perjalanan, utusan itu berpapasan dengan Al-Harits dan sahabat- sahabat nya yang tengah menuju ketempat Rasulullah saw. Setelah berhadap- hadapan , Al-Harits menanyai utusan itu ; “ Kepada siapa engkau di utus?” Utusan itu menjawab ; “ Kami di utus kepadamu.” Dia bertanya; “ Mengapa? “ Mereka menjawab;” Sesungguhnya Rasulullah saw telah mengutus Al-Walid bin Uqbah. Namun, ia mengatakan bahwa engkau tidak mau menyerahkan zakat, bahkan bermaksud membunuhnya.” Al-Harits menjawab ; “Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan sebenar- benarnya, aku tidak melihatnya. Tidak ada yang datang kepadaku.
            Ketika mereka sampai dihadapan Rasulullah saw, bertanyalah beliau ;” Mengapa engkau menahan zakat dan akan membunuh utusanku?” Al-Harits menjawab ;” Demi Allah yang telah mengutus engkau sebenar- benarnya, aku tidak berbuat demikian.” Maka turunlah ayat ini (QS. 49 Al-Hujurat :6) sebagai peringatan kepada kaum mukminin agar tidak hanya menerima keterangan dari sebelah pihak.[3]

IV.             MUNASABAH AYAT
Munasabah suratt al-Hujurat ayat 6 adalah ayat selanjutnya yaitu ayat ke-7 dan 8.
“ Dan ketahuilah olehmu bahwa dikalanganmu ada Rasulullah. Kalau dia menuruti (kemauan)mu dalam beberapa urusan, benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikanmu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikanmu benci kepada kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus” ( Al Hujurat ayat ayat 7 )
“Sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah maha mengetahui dan maha  bijaksana “  ( Al Hujurat ayat ayat 8 )
Ayat yang selaras maknanya dengan Surat Al Hujurat Ayat 6
]وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً[
“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya. (QS al-Isrâ’ [17]: 36).

V.                TAFSIR SURAT AL HUJURAT AYAT 6
Imam Syafi’i berkata, “ Allah memerintahkan kepada seseorang yang akan memutuskan suatu hal pada orang lain agar terlebih dahulu melakukan klarifikasi.”
Manaaqib asy-Assfi’iyy,  Bab Maa Jaa  fi Kuruujih ilaa al-Yaman wa Maqaamuh bihaa, Tsuma fi Hamlih min al-Yaman ilaa Haaruun[4]
Imam Baihaqi menuturkan bahwa khalifah ar-Rasyid mendengar kabar tentang Syafi’i yang hendak mengusir seorang ‘alawi ( pengikut Imam Ali ) dari Yaman, padahal kabar itu tidak benar. Ar-Rasyid marah, kemudian dia mengirim pasukan untuk menagkap Imam Syafi’i. Selain Imam Syafi’i ada 17 orang yang juga ditangkap.
Muhammad bin Hasan memberikan pertolongan, namun itu tidak berarti apa-apa.
Ar-Rasyid membunuh sembilan orang diantara mereka, kemudian Imam Syafi’i dibawa menghadap kepadanya.
Begitu berada dihadapan Ar-Rasyid, Imam Syafi’i berkata, “ Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman, jika seseorang yang fasik datang kepada kalian membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kalian tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan ( kecerobohan ), yang akhirnya kalian menyesali perbuatan itu.” ( QS. Al-hujurat (49): 6)
Ar-Rasyid kemudian berkata, “ Bukankah berita tentangmu itu benar ?”
“ Wahai Amirul Mukminin, bukankan setiap orang dimuka bumi ini yang mengaku pengikut Ali pasti beranggapan bahwa semua orang adalah budaknya ? Bagaimana mungkin aku akan mengusir seseorang yang akan menjadikanku sebagai hambanya ? bagaimana mungkin aku dengki dengan keutamaan Bani Abdi Manaf sedang aku bagian dari mereka dan mereka bagian dariku : “ jelas Imam Syafi’i. Amarah ar-Rasyid pun reda.[5]
Konteks turunnya ayat ini memang terkait dengan kasus al-Walîd, tetapi berdasarkan kaidah: Al-‘ibrah bi’umûm al-lafzhi lâ bi khushûsh as-sabab (makna ayat ditentukan berdasarkan keumuman ungkapan, bukan berdasarkan spesifikasi sebab), maka ayat ini berlaku untuk umum. Berdasarkan ayat inilah, para ulama hadis kemudian membuat kaidah periwayatan hadis sehingga menjadi karakteristik khas ajaran Islam. Tidak hanya itu, secara praktis, ayat ini juga menjadi kaidah berpikir para politikus untuk mengambil keputusan sehingga pantas jika Rasul saw. menyatakan:
»اَلتَّبَيُّنُ مِنَ اللهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ«
Pembuktian itu berasal dari Allah, sedangkan ketergesa-gesaan itu berasal dari setan. (Dikeluarkan at-Thabari).[6]
Ayat ini dinyatakan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman agar mereka berhati-hati ketika ada orang fasik membawa berita kepadanya; agar mereka memeriksanya dan tidak menelannya mentah-mentah (Yâ ayyuhâ al-ladzîna âmanû in jâ’akum fâsiqun binaba’in fatabayyanû). Dalam konteks ayat ini, Allah menggunakan jumlah syarthiyyah (kalimat bersyarat), in jâ’akum (jika [orang fasik] membawa kepadamu), dengan fâ’il (subyek) yang berbentuk sifat, fâsiqun (orang fasik). Berdasarkan konteks tersebut, dapat diambil mafhûm mukhâlafah (konotasi terbalik) sehingga para ulama membolehkan diambilnya hadis ahâd yang disampaikan oleh orang yang adil dan tidak fasik.[7] Hal yang sama juga berlaku untuk pengetahuan yang disampaikan oleh seorang guru yang adil.
Fâsiq (fasik) sendiri mempunyai konotasi al-khurûj min at-thâ‘ah (keluar dari ketaatan). Menurut as-Syawkâni, ada yang menyatakan, bahwa fasik dalam konteks ayat ini adalah dusta atau bohong.[8] Sementara itu, menurut istilah para ahli fikih, fasik adalah orang yang melakukan dosa besar dengan sengaja atau terus-menerus melakukan dosa kecil.[9]
Penggunaan kata naba’ (berita) dalam ayat ini mempunyai konotasi, bahwa berita tersebut adalah berita penting, bukan sekadar berita. Menurut ar-Râghib al-Ashfahâni, berita pada dasarnya tidak disebut naba’ sampai mempunyai faedah besar, yang bisa menghasilkan keyakinan atau ghalabah azh-zhann (dugaan kuat). [10]Di sisi lain, kata naba’ tersebut merupakan bentuk nakirah (umum), yang berarti meliputi semua jenis dan bentuk berita; baik ekonomi, politik, pemerintahan, sosial, pendidikan dan sebagainya. Karena itu, dapat disimpulkan, jika ada orang fasik membawa berita penting, apapun jenis dan bentuknya, yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan, maka berita tersebut harus diperiksa. Sedangkan kata tabayyanû, berarti at-ta‘arruf wa tafahhush (mengindentifikasi dan memeriksa) atau mencermati sesuatu yang terjadi dan berita yang disampaikan. [11]
An tushîbû qawman bi jahâlatin (supaya kalian tidak menjatuhkan keputusan kepada suatu kaum tanpa pengetahuan). Bi jahâlatin (dalam kondisi kalian tidak mengetahui) adalah keterangan hâl (keadaan yang menjelaskan perbuatan subyek). Menurut as-Shâbûni, konteks bi jahâlatin tersebut sama artinya dengan wa antum jâhilun (sementara kalian tidak mengetahui)[12] sebuah keterangan yang menjelaskan keadaan subyek ketika membuat keputusan atau kesimpulan. Keadaan ini umumnya terjadi karena informasi yang digunakan untuk mengambil keputusan atau kesimpulan tersebut tidak dicek terlebih dulu.
Fatushbihû ‘alâ mâ fa‘altum nâdimîn (sehingga kalian menyesali apa yang telah kalian lakukan). Penyesalan tersebut terjadi tentu karena keputusan yang dijatuhkan sebelumnya ternyata salah, tidak akurat, dan merugikan orang lain; termasuk pengambil keputusan.
VI.             MAKNA KANDUNGAN AYAT
Turunnya ayat ini untuk mengajarkan kepada kaum muslimin agar berhati-hati dalam menerima berita dan informasi. Sebab informasi sangat menentukan mekanisme pengambilan keputusan, dan bahkan entitas keputusan itu sendiri. Keputusan yang salah akan menyebabkan semua pihak merasa menyesal. Pihak pembuat keputusan merasa menyesal karena keputusannya itu menyebabkan dirinya mendhalimi orang lain. Pihak yang menjadi korban pun tak kalah sengsaranya mendapatkan perlakuan yang dhalim. Maka jika ada informasi yang berasal dari seseorang yang integritas kepribadiannya diragukan harus diperiksa terlebih dahulu.
Perintah memeriksa ini diungkapkan oleh al-Qur’an dalam kata fatabayyanu. Makna kata tersebut akan semakin mantap kita fahami dengan memperhatikan bacaan al-Kisa’i dan Hamzah, yang membaca kata tersebut dengan fatatsabbatu. Kedua kata tersebut memiliki makna yang mirip. Asy-Syaukani di dalam Fath al-Qadir menjelaskan, tabayyun maknanya adalah memeriksa dengan teliti, sedangkan tatsabbut artinya tidak terburu-buru mengambil kesimpulan seraya melihat berita dan realitas yang ada sehingga jelas apa yang sesungguhnya terjadi. Atau dalam bahasa lain, berita itu harus dikonfirmasi, sehingga merasa yakin akan kebenaran informasi tersebut untuk dijadikan sebuah fakta.
Informasi yang perlu dikonfirmasikan adalah berita penting, yang berpengaruh secara signifikan terhadap nasib seseorang, yang dibawa oleh orang fasik. Tentang arti fasik, para ulama’ menjelaskan mereka adalah orang yang berbuat dosa besar. Sedang dosa besar itu sendiri adalah dosa yang ada hukuman di dunia, atau ada ancaman siksa di akhirat. Berdusta termasuk dalam salah satu dosa besar, berdasarkan sabda Rasulullah saw;
“Maukah kalian aku beritahukan tentang dosa besar yang paling besar, lalu beliau menjelaskan, kata-kata dusta atau kesaksian dusta” (HR al-Bukhari dan Muslim)
Dan mengenai berita yang perlu dikonfirmasi adalah berita penting, ditunjukkan dengan dibunakannya kata naba’ untuk menyebut berita, bukan kata khabar. M. Quraish Shihab membedakan makna dua kata itu. “Kata naba’ menunjukkan berita penting, sedangkan khabar menunjukkan berita secara umum. Al-Qur’an memberi petunjuk bahwa berita yang perlu diperhatikan dan diselidiki adalah berita yang sifatnya penting. Adapun isu-isu ringan, omong kosong, dan berita yang tidak bermanfaat tidak perlu diselidiki, bahkan tidak perlu didengarkan karena hanya akan menyita waktu dan energi.”[13]
Dalam soal mentabayyun berita yang berasal dari orang yang berkarakter meragukan ini ada teladan yang indah dari ahli hadis. Mereka telah mentradisikan tabayyun ini di dalam meriwayatkan hadis. Mereka menolak setiap hadis yang berasal dari pribadi yang tidak dikenal identitasnya (majhul hal), atau pribadi yang diragukan intgritasnya (dla’if). Sebaliknya, mereka mengharuskan penerimaan berita itu jika berasal dari seorang yang berkepribadian kuat (tsiqah). Untuk itulah kadang-kadang mereka harus melakukan perjalanan berhari-hari untuk mengecek apakah sebuah hadis yang diterimanya itu benar-benar berasal dari sumber yang valid atau tidak.
Tetapi sayang, tradisi ini kurang diperhatikan oleh kaum muslimin saat ini. Pada umumnya orang begitu mudah percaya kepada berita di koran, majalah atau media massa. Mudah pula percaya kepada berita yang bersumber dari orang kafir, padahal kekufuran itu adalah puncak kefasikan. Sehingga dalam pandangan ahlul hadis, orang kafir sama sekali tidak bisa dipercaya periwayatannya.
Teladan untuk bertawaqquf terhadap berita yang tidak jelas ini pernah diberikan oleh Rasulullah saw dan para shahabat ra ketika terjadi berita dusta mengenai diri Aisyah. Orang-orang munafik sengaja menyudutkan Aisyah, yang tertinggal di tengah padang pasir sekembali dari perang bani Mushthaliq. Mereka menuduhnya telah melakukan selingkuh dengan orang lain. Para shahabat yang telah teruji keimanannya ketika ditanya tidak ada yang mau memberikan komentar, hingga akhirnya Allah swt menjelaskan persoalan itu yang sebenarnya. Dan dengan berhati-hatinya terhadap berita ini menjadikan kaum mukminin terhindar dari penyesalan, karena menfitnah orang, apalagi dia Ummul Mukminin.[14]

VII.          ASPEK PENDIDIKAN DALAM PEMBINAAN MASYARAKAT
Begitu besar keburukan dan kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh suatu berita yang tidak akurat, begitu banyak kemudharatan dan kedzaliman yang akan menimpa suatu kaum dikarenakan berita yang tidak dapat dipertanggung-jawabkan. Oleh sebab itu, agama Islam ini telah mengajarkan kepada kita untuk dapat mengelola berita atau informasi secara bijaksana sesuai dengan Allah SWT syariatkan dan Rasulullah saw contohkan, yaitu :
1. Berbaik sangka atau Husnudzan
            Apabila kita mendapatkan berita ataupun informasi yang buruk tentang saudara muslim kita, maka yang pertama kali harus kita kedepankan adalah membangun prasangka baik kita kepadanya (husnudzan). Boleh jadi bahwa berita buruk yang sampai ke telinga kita adalah berita fitnah dan jauh dari kebenaran, dan boleh jadi berita tersebut adalah benar adanya tetapi juga jauh dari keakuratan. Sehingga alangkah bijaksananya jika kita tidak mempercayai begitu saja berita yang kita dengar tentang saudara muslim kita lainnya apalagi jika berita tersebut disampaikan oleh seorang munafik dan kafir.
Allah SWT berfirman di awal surat Al-Hujurat ayat 12 :

يا أيها الذين آمنوا اجتنبوا كثيرا من الظن إن بعض الظن إثم
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari prasangka (kecurigaan), karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa..”
(Qs.49 : 12)
2. Melakukan tabayyun
Allah SWT firmannya di surat Al-Hujurat ayat 6 :
“Wahai orang-orang yang beriman !, jika seorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu”
(Qs. 49 : 6)
Allah SWT mengajarkan kita untuk melakukan tabayyun atau memeriksa kembali dengan seksama terhadap berita yang kita terima, baik dari seorang muslim, lebih-lebih jika kita terima dari seorang kafir.
Hal ini kita lakukan agar kita tidak terjebak fitnah yang dilontarkan oleh orang-orang yang fasik, yang menginginkan tersebarnya keburukan orang lain. Kita harus berlaku adil terhadap sesama muslim, bahkan keadilan terhadap berita yang menceritakan tentang dirinya yang tersampaikan kepada kita. Melakukan tabayyun lebih baik dilakukan terhadap kedua pihak, terhadap objek yang diberitakan maupun kepada pembawa berita ataupun pihak yang disengketakan, sehingga kita bisa mendapatkan informasi yang akurat dan berimbang.
Dengan begini, kita bisa menjaga diri dari berpikiran buruk atau su’udzan terhadap saudara muslim kita lainnya, dan kita juga terhindar menjadi penyebar berita buruk yang mengada-ada tentang saudara muslim kita tersebut.
3. Tidak menyebarkan berita keburukan saudara muslim yang lain
            Jika berita keburukan saudara kita telah sampai kepada kita, hendaknyalah sebisa mungkin kita menahan diri untuk tidak turut andil dalam menyebarkan keburukan saudara muslim kita itu, kecuali dengan pertimbangan bahwa keburukan yang dilakukan oleh saudara kita dapat mengakibatkan keburukan bagi kaum yang lain.
            Kita harus senantiasa menjaga lisan ini, untuk digunakan sesuai dengan yang Allah ridhai, bukan malah menjadi alasan untuk lebih menjerumuskan kita kedalam neraka, sebab Rasulullah SAW bersabda :

أكثر ما يدخل الناس النار الفم والفرج) رواه الترمذي وابن حبان في صحيحه
“Yang paling banyak menjerumuskan manusia ke-dalam neraka adalah mulut dan kemaluan”
(H.R. Turmudzi dan dia berkata hadits ini shahih.)
4. Mengingatkan kesalahan dan membatunya
            Manusia adalah makhluq Allah yang lemah yang Allah ciptakan bersama dengan Nafsu yang menyertainya. Jama’ah manusia bukanlah jama’ah Malaikat, yang diciptakan-Nya tanpa mempunyai nafsu dan terhindar dari kesalahan karena kepatuhan dan ketundukkannya kepada Allah SWT. Hingga suatu keniscayaan bahwa manusia akan melakukan kesalahan dan kekhilafan dalam kehidupannya. Sudah menjadi tugas seorang muslim untuk saling mengingatkan kesalahan saudaranya dan membantunya untuk memperbaikinya. Saling mengisi kekurangannya, dan saling memperkuat kelebihannya. Akan indah kehidupan ini, jika kaum muslimin bisa hidup saling membantu dan memberi manfaat, bukan saling menyebarkan keburukan dan menjatuhkan.
            Rasulullah saw bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat kepada manusia (lain)”. (Hadist Hasan, diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdullah ra).
5. Mendo'akan bagi kebaikan saudara muslim lainnya
            Akhirnya setelah kita mengetahui kejelasan berita secara akurat tentang saudara muslim kita lainnya, lalu kita bersabar dengan tidak menyebarkan keburukannya dan ikut andil dalam nasehat mengingatkan kesalahannya, maka hal terakhir yang bisa dilakukan oleh seorang mukmin adalah mendo’akan bagi kebaikannya.
            Mendo’akan bagi kebaikan saudara muslim yang lain adalah salah satu bentuk kepedulian dan kecintaan kita pada saudara kita dalam wujud amalan yang paling sederhana, manakala kita tidak bisa ikut membantu menyelesaikan beban dan masalah yang menimpanya, maka hendaknyalah dalam setiap sujud sholat kita, dalam setiap keheningan malam munajat kita pada Sang Maha Kuasa, kita sertakan nama saudara kita dalam untaian kata penuh harap kepada Sang Maha Penyayang. Kita do’akan kebaikan saudara kita sebagaimana kita berdo’a untuk kebaikan kita diri kita sendiri.
            Rasulullah Saw bersabda, “do’anya seorang saudara muslim untuk saudaranya muslim yang lain tanpa sepengetahuannya adalah tidak ditolak”. (HR. Al Bazzar, dengan sanad Shahih).



VIII.       KESIMPULAN
Ada beberapa kesimpulan yang bisa kita ambil pelajaran dari surat al-Hujurat ayat 6 yaitu :
  1. Ayat diatas menunjukkan bahwa mengklarifikasi berita yang dibawa orang fasik adalah salah satu kesempurnaan keimanan.
  2. Allah memerintahkan kepada mukmin untuk selalu meneliti berita yang dibawa oleh orang fasik.
  3. Ayat ini menjadi dasar bahwa dilarang seorang ahli hadits untuk mengambil hadits yang diriwayatkan oleh orang fasik.
  4. Diperintahkan untuk meneliti setiap berita dari orang fasik, agar kita tidak merugikan atau menimpakan bahaya kepada orang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Umm, Jilid VII, hal. 94. Lihat Ahkam al-Qur’an, Jilid II, hlm. 118-119, Lihat juga al-Umm, ditahqiq Dr. Abdul Muthalib, Jilid VIII
Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta’wîl Ayy al-Qu’ân, Dâr al-Fikr, Beirut, 1405, juz XXVI
Asbabunnuzul,  karya K.H.Q . Shaleh, H.A.A.Dahlan, dkk

Manaaqib asy-Syafi’iyy, karya Baihaqi, Jilid I

Syaikh Ahmad Mustafa al-Farran,Tafsir Imam asy-Syafi’i ( Menyelami Kedalaman Kandungan Al-Qur’an ), ( Jakarta : PT. Niaga Swadaya,2008)

Ath-Thabari, Ibid, hlm. 124; Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, Syarikah an-Nûr, Asia

Al-Qurthûbi, al-Jâmi‘ li Ahkâm al-Qur’ân, Dâr , juz XVI

As-Syawkâni, Fath al-Qadîr, Dâr al-Fikr, Beirut, juz V

Rawwâs Qal’ah Jie, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, Dâr an-Nafâis, Beirut.
As-Shâbûni, Shafwat at-Tafâsîr, Dâr as-Shâbûni, Kairo, cet. IX
M. Quraish Shihab dalam bukunya Secercah Cahaya Ilahi halaman
Budi Prasetyo (Abah Zacky) rahimahullah http://muslimdaily.net/opini/specialfeature/selektif-menerima-informasi-tafsir-surat-al-hujurat-ayat-6.html





[1] Al-Umm, Jilid VII, hal. 94. Lihat Ahkam al-Qur’an, Jilid II, hlm. 118-119, Lihat juga al-Umm, ditahqiq Dr. Abdul Muthalib, Jilid VIII, hal. 210-211
[2] Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta’wîl Ayy al-Qu’ân, Dâr al-Fikr, Beirut, 1405, juz XXVI, hlm. 123-124.

                [3] Asbabunnuzul,  karya K.H.Q . Shaleh, H.A.A.Dahlan, dkk
[4] Manaaqib asy-Syafi’iyy, karya Baihaqi, Jilid I, hlm. 142-143

[5]  Syaikh Ahmad Mustafa al-Farran,Tafsir Imam asy-Syafi’i ( Menyelami Kedalaman Kandungan Al-Qur’an ), ( Jakarta : PT. Niaga Swadaya,2008), ,Cet I, hlm.  407

[6] Ath-Thabari, Ibid, hlm. 124; Ibn Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, Syarikah an-Nûr, Asia, juz IV, hlm. 210
[7] Al-Qurthûbi, al-Jâmi‘ li Ahkâm al-Qur’ân, Dâr , juz XVI, hlm. 312.

[8] As-Syawkâni, Fath al-Qadîr, Dâr al-Fikr, Beirut, juz V, hlm. 60.

[9] Rawwâs Qal’ah Jie, Mu’jam Lughat al-Fuqahâ’, Dâr an-Nafâis, Beirut, cet. I, 1996, hlm. 307 dan 315.
[10] Lihat, As-Shâbûni, Shafwat at-Tafâsîr, Dâr as-Shâbûni, Kairo, cet. IX, juz III, hlm. 231.
`[11] Asy-Syawkâni, Ibid, hlm. 60.

[12] Asy-Shâbûni, Ibid, hlm. 233.
                [13]  M. Quraish Shihab dalam bukunya Secercah Cahaya Ilahi halaman 262
[14] Budi Prasetyo (Abah Zacky) rahimahullah http://muslimdaily.net/opini/specialfeature/selektif-menerima-informasi-tafsir-surat-al-hujurat-ayat-6.html

Minggu, 27 November 2011

Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al Qur'an ( PTIQ )


Sejarah Berdiri

Institut PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an) merupakan pendidikan tinggi pertama yang mengkhususkan diri di bidang kajian ilmu-ilmu Al-Qur'an didirikan 1 April 1971 oleh Yayasan Ihya 'Ulumiddin yang dipimpin oleh K.H. Moh. Dahlan (Menteri Agama saat itu). Sejak 12 Mei 1973 pengelolaan Institut ini diserahkan kepada Yayasan Pendidikan Al-Qur'an yang didirikan oleh Letjen (Purn.) H. Ibnu Sutowo. Kini diteruskan oleh putranya, H. Ponco Susilo Nugroho.

Pendirian PTIQ dilatari oleh kesadaran akan semakin langkanya ulama ahli Al-Qur'an (terutama para hafizh) sementara sangat didambakan dalam kehidupan masyarakat yang semakin kompleks. Sejak Musabaqah Tilawatil Qur'an Nasional I di Makasar 1968.

Keberadaan para ulama ahli Al-Qur'an ini sangat terasa, sehingga tak kurang Presiden Republik Indonesia dalam amanatnya pada Musabaqah Tilawatil Qur'an Nasional III di Banjarmasin mengingatkan pentingnya untuk meningkatkan upaya penghayatan dan pemahaman kitab suci Al-Qur'an sebagai pedoman hidup manusia.
Sejak berdirinya Institut PTIQ secara berturut-turut dipimpin oleh ulama-ulama terkemuka negeri ini : Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML; K.H. Syukri Ghozali; K.H. Zainal Abidin Ahmad; Prof. Dr. K.H. Bustami A. Ghani; Prof. Dr. K.H. Chatibul Umam.Dan kini Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A.
Visi

Terwujudnya Lembaga Pendidikan Tinggi yang Unggul Dalam Pengkajian, Pengembangan, dan Pengamalan Al-Qur'an

Misi
  1. Mencetak sarjana dan ulama yang ahli Al-Qur'an
  2. Mengkaji ilmu-ilmu Al-Qur'an sebagai khazanah dan sumbangsih bagi pengembangan budaya untuk ketinggian martabat, kemajuan, dan kesejahteraan umat manusia
  3. Mengaktualisasikan pesan-pesan Al-Qur'an dalam upaya menjawab problematika kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara

Tujuan

  1. Mencetak kader-kader ulama yang hafidz Al-Quran.
  2. Menghasilkan sarjana yang mendalami ilmu-ilmu agama Islam (Tafaqquh fid-din) dan bertanggung jawab atas pengembangan agama (iqamat ad-din) serta pembangunan masyarakat.
  3. Mengembangkan kajian ilmu-ilmu Al-Qur'an, pesan-pesan dan nilai-liai yang terkandung didalamnya, untuk dapat diterapkan dalam kehidupan nyata serta sebagai sumbangan untuk mengatasi berbagai problem masyarakat.
Untuk Lebih jelasnya Silahkan Kunjungi DiSINI atau DISINI

Selasa, 01 November 2011

Integrasi Ilmu Agama Dan Ilmu Umum Sebagai Awal Kebangkitan Umat Islam

Setiap memiliki power yang berbeda-beda dalam memahami setiap konteks permasalahan. Hal ini tergantung sejauh mana kemampuan berpikir dan kemampuan intelektual yang dimiliki. Secara umum manusia tatkala disuguhkan kepadanya Ayat Qur'ani maka akan terbagi menjadi 3 kubu besar seperti yang ada pada gambar di atas.
1. Orang Burhani, lebih mengutamakan akal dalam mengkaji suatu problematika. Maka dengan sendirinya akan melahirkan seorang pemikir (Filosof)
2. Orang Bayani, memahami al Qur'an secara tekstual, bukan secara kontekstual yang relevan dengan kemajuan zaman, maka dengan sendurinya akan melahirkan ahli Fiqh.
3. Orang Irfani, lebih mengutamakan hati dalam memahami Ayat al Qur'an, maka dengan sendirinya akan melahirkan kaum Sufi.
Dan dari ke-3 golonngan itu kita tahu ketiganya tidaklah Integral, terdapat dikotomi diantara ke-3-nya. Sehingga satu dengan yang lainnya saling mencela dan menyalahkan, tidak ada persepsi yang sama terhadap ke-3-nya. Dengan fenomenal ini, kita tentunya harus memahami, di dalam Islam sendiri tatkala ada hal yang tidak sinergi dengan yang dikehendaki Allah, kita harus mencoba untuk mengintegrasikan ke-3-nya agar sebagai ummat Islam kita mempunyai satu tujuan yang jelas yaitu kebangkitan Islam, walaupun pada prakteknya memang sangat sulit di lakukan.

Nah....inilah skema secara umum pembagian/pemisahan/dikotomi ilmu pengetahuan Agama dan Umum.

Allah SWT menurunkan ayatnya di Dunia ini, bukan hanya ayat Qauliyah (ayat kecil) saja, kenapa saya bilang ayat kecil....?
Kalau kita merujuk dari keseluruhan ayat al Qur'an, bisa kita ketahui dari 6.666 ayat al Qur'an yang merupakan ayat-ayat ahkam sekitar 300 ayat. Dan ayat inilah yang dikaji oleh ulama, dengan berbagai literatur ilmu baik ilmu fiqh, mu'amalah, syari'ah, hukum, tafsir dan sebagainya. Maka ana katakan tatkala kita hanya memandang ayat-ayat Allah dari kacamata ahkam saja tentu kita akan merugi. Karena kita tentu sangat mengetahuinya, disamping ayat kauliyah ada ayat lain yang patut kita jadikan perhatian dalam hidup kita, yaitu ayat kauniyah. Alam beserta isinya, laut, gunung, lembah, padang pasir, tumbuhan, hewan, bahkan sampai ruang angkasa dengan segala macam planetnya merupakan ayat kauniyahnya Allah SWT.
Kita tidak bisa memungkirinya, bahwa semua itu adalah sebagian kecil dari nikmat Allah.
"Sementara kalimat-kalimat-Nya adalah tidak terbatas. Tidak mungkin bagi kita untuk menuliskan semuanya. Meski telah disediakan tinta sebanyak lautan yang ada di bumi ini untuk menuliskan kalimat-kalimat-Nya, maka pasti akan habis tinta itu sebelum habis ditulis kalimat-kalimat-Nya. Bahkan seandainya didatangkan tambahan tinta sebanyak itu lagi, tetap saja, pasti akan habis lagi tinta itu sebelum habis ditulis kalimat-kalimat-Nya. Hal ini sesuai dengan penjelasan Al Qur’an dalam surat Al Kahfi berikut ini:
“Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”. (QS. Al Kahfi. 109).
Dari ayat ini kita bisa simpulkan, jika kita bernota bene sebagai seorang ulama, kita tidak bisa menfyikan ayat-ayat Allah yang ada di muka bumi ini, karena semuanya bagian dari nikmat-Nya.

Namaun permasalahan Kontemporer yang kita hadapi sekarang ini adalah, bahwasanya kita sebagai manusia yang ada di salah satu dari cabang ilmu tersebut bersikap arogan terhadap apa yang kita kuasai. Ilmuan terkadang tidak menggunakan hasil temuannya sesuai dengan apa yang di inginkan al Qur'an, sementara ulama acuh tak acuh terhadap penemuana-penemuan baru di bidang Iptek.
Seyogyanya, keduanya bisa berjalan bersamaan dengan cara saling memperkaya, saling saling mengerti dan memahami dan sinergi satu sama lain.
Tatkala keduanya saling melengkapi, saya rasa kebangkitan Islam akan mulai mengembangkan sayapnya menuju kejayaan. Jika kita bernostagia dengan sejarah ilmuan-ilmuan islam, seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusd, dll. Mereka tidak hanya menguasai satu rumpun ilmu, akan tetapi mensinergikan ilmu umum dan Ilmu agama secara bersamaan.
Kitalah generasi penerus agama yang hanif ini, mari kita isi segala aktivitas kita demi menuju kejayaan islam.
Satu kata " TIDAK ADA DIKOTOMI ILMU DI DALAM ISLAM"
Adm : Rudi

Minggu, 30 Oktober 2011

Sesiion II



Perang Salib.

Sementara disebelah timur dan barat mengalami penghancuran oleh Hulago dan Spanyol Kristen, ummat Islam di sebelah tengah mengalami serangan dari kefanatikan Kristen yang di koordinir oleh Paus. Suatu serangan yang kemudian dikenal dengan sebutan perang Salib, yang mempunyai tujuan untuk merebut kota suci Palestina dari tangan kaum muslimin. Terjadilah peristiwa yang sangat menyedihkan di pantai Timur Laut Tengah, peristiwa yang merusak hubungan dunia timur dan barat yang dilakukan oleh kristen Eropa.

Penyerbuan yang berjalan selama dua abad lamanya, tentu saja memakan korban harta, benda dan jiwa yang tidak sedikit jumlahnya. Dengan sangat sombongnya Godfrey, kepala negara Kristen yang menduduki Palestina, berkirim surat kepada Paus diantara isinya dia berkata " Sesungguhnya kuda Kami mengarungi lautan darah orang-orang Timur sampai ke lutut tingginya di hadapan Haikal Sulaiman.(2).

1. Perang Salib Pertama (1095-1147)M

Perang Salib ini semula digerakkan oleh seorang pendeta Peter dari Prancis, tetapi kemudian didukung oleh Paus di Vatikan, oleh Raja Kristen di Eropa dan oleh Kepala Kristen Ortodox yang berkedudukan di Konstatinopel. Paus Urbanus II mengadakan pidato yang berapi-api di Clermont Prancis pada tanggal 26 November 1095 yang menurut penilaian Prof. Philip K. Hitti .
Kumandang pidato itu menggema diseluruh Eropa , disegala negara Kristen, mempersiapkan tentara yang lengkap persenjataannya untuk pergi berperang merebut Palestina. Dari sinilah bermula suatu penyerbuan barat Kristen ke Dunia Islam yang berjalan selama 200 tahun lamanya dari mulai 1092-1293 M dengan 8 kali penyerbuan.

Pada permulaan peperangan, orang-orang Kristen Eropa mencapai maksudnya merebut Palestina. Selanjutnya mereka menduduki daerah sekitarnya,sehingga dapat mendirikan kerajaan di Timur ialah kerajaan Baitul Maqdis, di Antiochia, di Tripolisia dan di Edessa. Ketika tentara Salib menduduki Palestina terjadilah pembunuhan massal dan penyembelihan secara besar-besaran. Kepala, tangan dan kaki manusia yang mati di bunuh berserakan di sepanjang jalan di kota suci itu. Menurut sejarawan Ibn Atsur tidak kurang dari 70.000 manusia menjadi korban pada pembunuhan massal itu.
Demikian kejahatan-kejahatan yang merupakan fakta sejarah yang tidak bisa di bantah dan dilupakan. Dengan perasaan cemas dan ketakutan kaum Muslimin memandang drama sejarah yang sangat mengerikan. Bertahun-tahun lamanya mereka menunggu saat yang tepat untuk membalas. Barulah pada tahun 521 H/1127M muncul seorang pahlawan Islam termashur bernama Imaduddin Zanki, gubernur dari Mousul, yang dapat mengalahkan tentara Salib di kota Aleppo dan humah.

Kemenangan itu merupakan kemenagnan yang pertama kali yang disusul dengan kemenagnan selanjutnya sehinggga tentara Salib merasakan pahitnya kekalahan demi kekalahan.

Rabu, 26 Oktober 2011

Sesion I



Peradaban Dimulai dari sebuah kebudayan yang berlanjut menjadi sebuah peradaban. Untuk itu marilah kita mengenal apakah yang dimaksud dengan kebudayaan.
Menurut Prof. Dr. Musyrifah Sunanto ( Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta )
Kata kebudayaan dibagi menjadi 3 bagian. Yaitu
a. Budi : yang berarti akal
b. daya : yang berarti kekuatan
c. Akhir kata ke-an : yang berarti sesuatu yang menghasilkan

Jika kita bernostalgia dengan kisah nenek moyang kita Nabi Adam AS, tentu kita akan mendapatkan berbagai pelajaran berharga, yang mungkin selama ini kita lupakan bahwa semenjak zaman Nabi Adam AS lah yang merupakan pelopor kebudayaan / peradaban umat manusia. Tatkala nabi Adam AS ada di Syurga, semua yang di inginkannya dipenuhi Allah SWT begitu juga dengan istrinya Hawa. Akan tetapi tatkala mereka berdua diturunkan oleh Allah ke bumi, maka segala sesuatu yang mereka inginkan haruslah di usahakan sendiri.Mungkin kita tidak menyadari, baju yang sekarang kita pakai. Tahukah kita dari mana asalnya ?
Ingatkah kita ! bahwasanya adam dan hawa diturunkan Allah dalam keadaan telanjang...
Maka pada saat itu pula secara refleks mereka berdua menutupi tubuh mereka dengan daun kurma yang kasar. Nah...ini merupakan awal dari bekerjanya akal manusia akan butuhnya pelindung tubuh yang kemudian berkembang dari daun kurma yang kasar sampai pada bahan2 yang halus yang kita pakai pada saat ini. Nah inilah yang kemudian kita kenal dengan budaya yang kita warisi dari nenek moyang kita nabi Adam AS.

Dapat kita simpulkan bahwa budaya adalah segala sesuatu yang dihasilkan akal secara fisik yang berupa (sandang, pangan dan papan) ataupun Non fisik seperti (pengetahuan, hidup bersosial, hukum, politik, ekonomi, seni, atau Agama ardi (agama hasil karya manusia, misalnya menyembah berhala )

Nah sekarang kita beralih kepada peradaban yang merupakan lanjutan dari kebudayaan. Sebagaimana kebudayaan, peradaban juga dibagi menjadi 2 kata (seperti yang di ungkapkan Prof. Dr. Musyrifah Sunanto )
1. Adab : yang berarti sesuatu yang bernilai tinggi
2. Kata Per-an : yang ber arti segala sesuatu yang dihasilkan
Jadi peradaban adalah segala sesuatu yang dihasilkan akal yang bernilai tinggi.
Contoh : Bata, pasir adalah kebudayaan tapi kalau disusun menjadi sebuah masjid yang mempunyai nilai seni suatu bangsa maka ia akan menjadi sebuah peradaban.

Nah sekarang kita akan memulai peradaban yang dimulai Di zaman Kerasulan yaitu di masa nabi Muhammad SAW.
Tentu kita tidak akan pernah lupa, ayat pertama yang Allah turunkan pada nabi Muhammad SAW...!. Kalau kita kaji lebih dalam banyak sekali filosifi dan ibroh yang bisa kita ambil didalamnya. Allah tidak hanya menginginkan kita untuk membaca ayat-ayat kauniniah dan kauliyahnya saja, tetapi Allah juga melaui Rasulnya mengiginkan kita untuk belajar baerbagai nilai-nilai pendidikan di dalamnya. Kita tentu tahu bahwa dalam setiap corak kehidupan Nabi Muhammad terdapat ibroh yang bisa kita jadikan pelajaran hidup.
Misalnya saja, kalau kita pikirkan, mengapa ayah Rasul meninggal pada waktu Rasul masih di kandungan ? atau mengapa ibunya meninggal pada waktu beliau masih balita ? juga pamannya meninggal wakktu beliau masih kecil ?.....ternyata Allah memang telah mempersiapkan seorang Rasul yang pemikirannya bebas dari kontaminasi kesyirikan. Bayangkan saja, jika Rasul lahir dan pada saat itu ayahnya masih hidup, tentu pengaruh sang ayah yang pada saat itu masih syirik akan berpengaruh pada anaknya...begitu juga dengan ibu dan pamannya. Karena tentu kita tahu walaupun agama mereka adalah agama yang hanif, tapi masih bercampur baur dengan kemusyrikan, disatu sisi mereka memang menyembah Allah, tetapi disisi yang lain mereka masih percaya pada Thagut dan asnam. Nah..tatkala ayat pertama turun kepada Rasul, kita bisa simpulkan bahwa mulai dari ayat pertama turunpun Rasul telah mengembangkan metode intelektual yang mungkin sampai saat ini masih kita gunakan. Diantaranya :

1. Metode pengembangan intelektual yang terdiri dari :
a. Menghafal

b. Memahami

c. Mengamalkan.

2. Lembaga

a. Rasul menggunakan rumah istrinya Khodijah untuk markas dakwahnya.

b. Darul Arqom

c. ( nama sejenis sekolah )الكتاب

3. Materi

a. Mengenal huruf arab

b. Belajar do'a-do'a

c. Rasul mengajarkan mereka beribadah.

Maka kita bisa menyimpulkan dari turunnya ayat pertama dalam Al Qur'an Rasul telah menciptakan peradaban pertama yang sampai saat ini masih kita pakai metodenya dalam dunia pendidikan.

Kemudian kita beralih ke peradaban ke-dua yang muncul dizaman Rasul, tatkala Allah menurunkan surat Al Mudatsir,kita bisa melihat berbagai metode yang Rasulullah kembangkan yang sampai saat ini masih terus berkembang. Diantaranya :

1. Dakwah yang dimuliai secara sembunyi-sembunyi.

2. Dakwah yang dimulai dengan orang yang terdekat.

3. Dakwah yang dilakukan secara terang terangan.

4. Dakwah yang dilakukan dengan hanif.

Kemudaian peradaban ke-tiga yang Rasul kembangkan dimasanya adalah, ketika beliau hijrah dan sembunyi di gua tsur,kemudian beliau mendirikan masjid Quba dengan metode musyawarah. Kemudian beliau melakukan bebrapa hal :

1. Pengubahan nama Yatsrib menjadi madinah.

2. Membangun masjid nabawi yang merupakan pusat segala kegiatan muslim pada waktu itu.

3. Membuat dustuur daerah.

4. Membuat batas toritorial.

5. Membangun peraturan tentang kewarga negaraan.

6. Membangun lembaga-lembaga negara.

Itulah awal mula peradaban Islam dizaman Rasul yang kemudian berkembang menjadi peradaban besar yang kita saksikan sampai saat ini.

to Be continued....
Adm : Rudi

Sabtu, 15 Oktober 2011

Pendekatan dalam pengkajian Islam

Bagian I

Pendekatan dalam pengkajian Islam maksudnya pendekatan dalam memahami keislaman dalam berbagai disiplin Ilmu, baik dari segi politik, sosial, budaya, ekonomi dsb. Pendekatan yang dominan dalam islam adalah pendekatan dalam bidang Fikh dan pendekatan tekstual. Karena setiap perilaku seorang muslim selau saja berhububgan dengan fikh. Akan tetapi tidak menutup kemungkainan pendekatan yang dominan adalah pendekatan kontekstual. Misalnya : tatkala bicara tentang hukum babi tentu semua sepakat bahwa memakan babi itu adalah haram. Tapi coba kalau kita lihat jika kita ditanya apakah hukum Flu Babi ? maka kita tidak bisa menjawabnya. Nah dengan adanya flu babi itulah kemudian yang menjadi salah satu sebab kenapa Allah mengharamkan umat islam untuk memakan babi.

Ada sebuah kisah " Ayam " yang perlu kita perhatikan.
Ketika orang-orang terkenal ini ditanyai pendapat mereka "mengapa ayam menyeberang jalan???", mereka menjawab:

Aristoteles:
Karena itu adalah sifat alami mereka...

Sigmund Freud:
Rasa penasaran Anda tentang "mengapa ayam menyeberang jalan???" adalah bukti bahwa Anda mengalami disorientasi seksual yang berlebihan terhadap ayam tersebut...

Albert Einstein:
Apakah ayam itu yang bergerak menyeberangi jalan atau jalan itu yang bergerak di bawah ayam yang diam??? Itu semua tergantung pandangan Anda...

Johann Cruijff:
Itu logis...

Martin Luther King Jr.:
Aku memiliki impian tentang sebuah dunia di mana ayam-ayam dapat menyeberang jalan sesuka hati tanpa harus dipertanyakan kenapa...

George W. Bush:
Ini bukan masalah ayam-ayam itu menyeberang jalan atau apa! Ini masalah apakah ayam itu ada di pihak kami atau tidak! Tidak ada pihak netral di sini!

Roy Marten:
Namanya juga ayam... Pasti bisa khilaf... (sambil sesenggukan)

Ahmad Dhani:
Selama ayam-ayam itu mendukung suami berpoligami, ya kayaknya nggak masalah...

Maia Estianty:
Emang gue pikirin?!?!?!

Ariel 'Peterpan':
Untuk menghapus jejakmu...

Julia Perez:
Ngapain ayamnya nyebrang???
Ya pasti karena yang jantan ada di seberang!
Masa' si betina sendirian terus?!?!?!
'Kan nggak asik kalo pake alat bantu terus...

Desi Ratnasari:
No comment!!!

Adolf Hitler:
Jika ayam itu Yahudi, bunuh saja!!!

Mahmoud Ahmadinejad:
Ayam-ayam itu harus mendapatkan kebebasan menyeberang jalan tanpa harus ada tekanan dari Amerika Serikat dan Israel beserta sekutu-sekutunya!!!

Barack Obama:
Ayam-ayam itu memerlukan perubahan!
CHANGE! CHANGE! CHANGE!

Roy Suryo:
Berdasarkan analisa metadata yang Saya uji terhadap gambar ayam-ayam yang sedang menyeberang jalan, dapat Saya pastikan 100% bahwa gambar ini bhenar-bhenar ayam... bla.. bla.. bla.. (dengan bahasa yang ribet dan mata yang jelalatan)

Soeharto:
Ayam-ayam mana yang ndak nyebrang, tak gebuk! Atau ndak, dikebumiken saja!

Harmoko:
Berdasarkan petunjuk dari Bapak Presiden...

Megawati Soekarnoputri:
Itu pasti ayam wong cilik... Ayamnya jalan kaki, toh?!

Gus Dur:
Ngapain tanya Saya??? Ya tanya ayamnya, donk!
Gitu aja kok repot?!

Susilo Bambang Yudhoyono:
Tentu saja Pemerintah memfasilitasi ayam-ayam itu agar dapat menyeberang jalan dengan sebaik-baiknya.. bla.. bla.. bla.. (5 detik kemudian, penonton terlelap)

Wah itu mungkin hanya sebuah guyon saja jangan di ambil hati.
Tapi ternyata dri guyonan itu bisa kita ambil beberapa kesimpulan :
1. Suatu peristiwa ternyata akan membuat banyak penafsiran dari tiap orang dengan opini yang berbeda-beda.
2. Setiap sudut pandang / opini mempunyai karakter yang khas.

Nah begitulah pendekatan dalam pengkajian Islam ini, kita kan memandang Islam bukan hanya dalam satu aspek saja, tapi dalam berbagai aspek.
Dan disini tentu kita sebagai pemikir Islam kita harus mendaya gunakan akal kita agar sesuai dengan koridor Islam tentunya, sehingga tidak akan terjadi penyimpangan-penyimpang dalam konsep hukum dan pelaksanaan ajaran Islam. Dan kalu hal ini kita abaikan maka yang akan terjadi adalah penyimpangan dalam berpikir yang hanya mengikuti hawa nafsu saja tanpa memikirkannya dari sudut hukum yang benar sesuai denga Al Qur'an dan Assunnah.
Makanya tatkala kita lihat dari pendekatan Islam maka kaum Sufi lebih cenderung mencari ayat-ayat yang berkaitan dengan akal agar mereka bisa bebas mengekspose pemikiran pemikiran mereka, misalnya : " Apalla ya'qiluun, apalaa tatafakkaruun, afalaa ta'lamunn " dll.

Agama islam kalau kita lihat dari berbagai perspektif maka cakupannya akan sangat luas sekali. Misalnya saja tatkala kita berbicara tentang Iedul Adha maka yang paling dominan kita bahas adalah masalah Hukum/fikh. Padahal pada moment ini banyak sekali aspek lain yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap pelaksanaan ibadah ritual ini. Dan salah satu aspek yang sering kita lupakan adalah Aspek Ekonomi.
Pada waktu hari raya qurban ini tidak bisa kita pungkiri bahwasanya kebutuhan umat islam akan sapi dan kambing sangat besar sekali, bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia. Akan tetapi anehnya indonesia negara yang terkenal dengan suburnya hewan ternak karena kayanya akan rerumputan untuk pakan ternak, justru tidak berusaha menggalakkan peternakan secara besar-besaran agara dapat mengasilkan hewan ternak yang nantinya dapat diekspor ke seluruh dunia. Bahkan anehnya lagi negara Indonesia mengimpor sapi dari negara Australia untuk memenuhi kebutuhan sapi di negara sendiri. Aneh bukan ?
Contoh lain kalau kita melihat ibadah puasa dari perspektif ekonomi, pada bulan puasa biasanya harga sembako menjadi naik. Kenapa demikian ? Ini semua berkaitan dengan tradisi umat Islam " Buka Bersama " yang mungkin dilaksanakan umat islam dari mulai hari Ke-1 sampai hari terakhir puasa. Kita bisa bayangkan tatkala pada moment ini orang secara serempak mengadakan buka puasa baik dirumah, kantor, sekolah, maupun instansi-instansi pemerintah maupun swasta. Kita ambil contoh kecil saja berapa potong ayam yang dibutuhkan untuk membuat nasi kotak (karena biasanya kalau bulan puasa makannya enak-enak) ?
Pihak yang diuntungkan pada situasi ini adalah pedagang, yang kita sama ketahui perdagangan indonesia didominasi Oleh cina.
contoh lain lagi pada ibadah haji jika kita lihat dari perspektif ekonomi, pakaian ihrom saja yang pasti dipakai oleh seluruh jama'ah haji setiap tahunnya yang memproduksinya adalah Cina. Bahkan kita bisa lihat semakin tinggi tingkat ekonomi seseorang maka akan kita lihat semakin tebal kain ihromnya, sekali lagi yang di untungkan adalah Cina. Trus knapa kita umat islam tidak berusaha mengambil peluang ini ?

Kemudian, coba kita lihat pendekatan pengkajian Islam dalam aspek lain, dalam aspek politik misalnya. Bahwa didalam Islam banyak sekali diangkat berbagai kisah tentang penguasa yang bisa kita lihat dalam sejarah anbiya'. Berbagai macam kemelut antara nabi da penguasa di Zamannya. Nabi Ibrohim dengan raja Namrud, nabi Isa dengan Fir'aun dll.Dari berbagai gejolak yang terjadi, kita tentu bisa memahami sejarah konfliknya para nabi dengan penguasa setempat adalah bagian dari masalah politik dimasa itu. Akan tetapi tidak sedikit umat Islam yang berpendapat bahwa politik bukanlah bagian dari agama Islam. Padahal jika kita lihat dari sejarah Rasul dan para sahabat, baru beberapa saat saja setelah Rasul meninggal, kemelut yang pertama kali terjadi adalah kemelut politik, yaitu menentukan siapakah pemimpin yang layak untuk menggantikan Rasul, sampai-sampai jenazah Rasul belum juga dikebumikan setelah 3 hari. Dan ini menandakan bahwa politik dalam Islam juga sangat penting untuk menentukan pemimpin yang nantinya diharapkan membawa masa depan Islam menjadi lebih baik.
Hal lain yang bisa kita perhatikan dari kehidupan sahabat dari pendekatan ilmu yang berbeda, misalnya dalam kondisi sahabat dalam ulumul hadits dan kondisi sahabat dalam sejarah kebudayaan islam. Kalau dari ulunul hadits kita lihat yang ditonjolkan adalah sahabat-sahabat yang memang benar-benar baik sesuai dengan kriteria sebagai Rowi hadits seolah-olah kita menganggap semua sahabat Rasul itu baik, akur, saling toleransi pokoknya hal-hal yang baik deh. Sangat berbeda sekali jika kita lihat dari Ilmu SKI, kita bisa melihat banyak sahabat yang berselisih sepeninggalnya Rasul. Hal ini bisa kita lihat dari berbagai perselisihan diantara mereka dalam perang jamal, atau perang Siffin dll.
Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template