Selasa, 03 Maret 2015

Cinta...Energi Karya Sepanjang Sejarah Manusia!

Dikisahkan pada suatu malam sepasang suami isteri terlibat silang pendapat dan pertengkaran yang pada akhirnya dimanfaatkan oleh syetan untuk menghasut keduanya untuk tidak saling menegur hingga keesokan harinya.

Saat pagi menyingsing, sebagaimana biasa sang isteri tetap menunaikan kewajibannya untuk menyiapkan sarapan pagi buat sang suami, namun tidak seperti biasanya, sang isteri begitu selesai menyiapkan sarapan buat suami pergi meninggalkan meja makan tanpa menemani suaminya sarapan sebagaimana biasanya.

Saat suami menghampiri meja makan, ia kemudian mulai mengambil pisau dan garpu dan memotong telur rebus  buatan isterinya sambil melirik kiri kanan berharap isterinya datang dan duduk disampingnya untuk menemaninya sarapan pagi, namun isterinya tak kunjung datang. Lalu ia ambil segelas susu diatas meja dan ternyata susu itu sudah dingin, ia mencoba meminumnya namun ia merasa tidak bernafsu untuk menghabiskannya karena sang suami tidak suka susu yang sudah dingin.

Dengan perasaan tak menentu, sang suami kembali mencicipi sarapannya namun ia tetap tak bernafsu untuk menyelesaikan sarapannya. Ia terus melirik ke arah dapur dengan harapan sang isteri datang dan duduk disampingnya. Tiba-tiba sang isteri keluar dari arah dapur sambil membawa beberapa potong roti dan menaruhnya diatas meja.

Sang isteri berusaha untuk duduk disamping sang suami namun batinnya mengatakan ‘tidak’ karena ia merasa perasaannya telah dilukai oleh sang suami dan sampai detik itu ia masih berharap sang suami datang dan meminta maaf kepadanya namun harapannya pupus karena sang suami belum juga meminta maaf kepadanya. Diwaktu yang sama, sang suami juga merasa gengsi untuk meminta maaf kepada sang isteri.

Sang isteri tanpa bicara sedikitpun, kembali ke dapur dan mulai dengan kesibukannya sebagaimana biasa membersihkan perkakas-perkakas dan membiarkanya suaminya sarapan sendirian. Tak lama setelah itu ia mendengar pintu rumah terbuka dan tertutup dan itu pertanda suaminya telah berangkat ke kantor.

Sang isteri kemudian menghampiri meja makan dan ia melihat makanan yang telah ia siapkan buat suaminya tak tersentuh sedikitpun, susu yang ia sediakan pun tak diminum bahkan telur rebus yang dicicipi suaminya pun masih tersisa.

Dalam hati sang isteri berbicara sendiri “ya, saya tahu kamu pasti berharap aku duduk disampingmu dan menemanimu sarapan. Aku tahu pasti kamu berharap aku yang potongin roti dan telur rebus kesukaanmu dan menatap wajahmu saat kamu sarapan. Tapi untuk hari ini aku harus member pelajaran kepadamu karena kamu telah melukai perasaanku dan kamu tidak pandai menghargai kelelahanku dan setelah itu kamu pun tak segera meminta maaf kepadaku!”

Masih dengan perasaan marah dan sedih, sang isteri kemudian mulai merapikan meja makan dan tiba-tiba ia dikejutkan saat melihat dua tangkai bunga berwarna merah dan putih dan dibawah bunga tersebut ada secarik kertas. Ia bergegas mengambil secarik kertas tersebut dan ternyata didalam kertas tersebut terdapat tulisan tangan suaminya.

Sang suami ternyata telah meninggalkan sepucuk surat dan dua tangkai bunga yang sangat cantik sebelum ia meninggalkan rumah untuk berangkat kerja ke kantor. Dalam surat tersebut sang suami menulis begini:

“Bismillahirrahmanirrahim”

Kepada bunga terindah dalam hidupku, buat isteriku tersayang dan cinta abadiku!

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Sayang…
Betapa aku merindukanmu duduk disampingku untuk menemaniku sarapan pada hari ini, namun disaat dirimu menghindar dariku, jujur aku tak sanggup untuk menelan makanan yang telah kamu sediakan tanpa kehadiranmu disisiku

Sayang….
Betapa aku merindukan senyumanmu dan lambaian tanganmu yang tulus saat melepas kepergianku meninggalkan rumah untuk berangkat bekerja sebagaimana hari-hari sebelumnya.

Isteriku sayang…
Aku jujur, aku telah berbuat salah kepadamu, aku telah menyakiti perasaanmu, aku tahu syetan telah menggodaku melakukan itu semua. Apakah kau mau membukakan pintu maafmu wahai Isteriku…?

Seketika dua bola mata sang isteri digenangi butiran tangis yang membuncah, ia memeluk surat dan dua kuntum bunga tersebut dan mengecupnya sambil berucap lirih: “Maafkan diriku juga wahai suamiku tercinta…maafkan aku ya....”

Seketika dengan perasaan yang penuh suka cita, sang isteri bergerak seperti lebah yang terbang kian kemari. Ia masuk ke dapur dan mulai menyiapkan makan siang kesukaan suaminya. Energi cinta suaminya telah menghilangkan kelelahan tubuhnya saat ia tanpa henti terus membersihkan dan merapikan rumahnya sehinga ia berhasil menyulap rumah mungilnya menjadi sebuah taman yang sangat indah dan sejuk dipandang mata. Bunga-bunga indah dan lilin telah tersusun indah dimeja makan siap menanti kepulangan suaminya. Ruangan terasa sangat harum saat ia menyemprotkan parfum kesukaan sang suami, semakin menjadikan rumah mungil itu seperti hotel mewah. Tak hanya itu, ia kemudian bergegas untuk membersihkan dirinya dan memakai pakaian tercantik yang ia punya untuk menyambut kedatangan sang suami.

Detik waktu terus bergulir, tiba waktunya sang suami kembali kerumah setelah seharian bekerja dengan lelah. Saat sang isteri membuka pintu dengan senyuman terindahnya, dan saat sang suami memasuki rumah dan terpana dengan suasana keindahan didalamnya, hati keduanya berdialog tanpa aksara kata dan cukup bagi meraka bahasa cinta lah yang berbicara dengan penuh ketulusan dan kejernihannya.

Cairo, 3 Maret 2015
*Disadur dari sumber berbahasa Arab

0 komentar:

Posting Komentar

Kotak Pesan

Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template