Minggu, 27 November 2011

Kata Hikmah Buya Hamka


Rangkaian Kata Hikmah Dan Petuah Dari Buya Hamka
Dari buku Di Bawah Lindungan Ka'bah


Kejadian yang mendukakan hati dan menerawankan pikiran.

Kehidupan itu laksana lautan: " Orang yang tiada berhati-hati dalam mengayuh perahu, memegang kemudi dan menjaga layar, maka karamlah ia digulung oleh ombak dan gelombang. Hilang di tengah samudera yang luas. Tiada akan tercapai olehnya tanah tepi".

Iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi. Namun ilmu tanpa iman, bagaikan lentera di tangan pencuri.

Tali tempat bergantung telah putus dan tanah tempat berpijak telah terban.

Masa itu daun sedang rimbun, bunga sedang kembang dan buah sedang lebat.

Tentang penulisan pada surat yang berbau cinta muda-mudi:

" Walaupun di dalam surat itu kita berusaha menghilangkan kata-kata yang rancu, namun tentulah pada akhirnya salah satu kata dalam surat itu terpaksa jua membawa arti lain. Sebab dalam perkara yang halus-halus anak perempuanlah yang amat dalam penyelidikannnya".

Cinta itu adalah jiwa. Antara cinta yang sejati dan jiwa tak dapat dipisahkan. Cinta pun merdeka sebagaimana jiwa. Cinta itu terkadang mustahil. Tetapi kemustahilan itulah yang kerap kali memupuk rasa cinta.

Seseorang yang terkena penyakit cinta, maka ia (seolah-olah) takut akan terkena cinta itu. Itulah dua sifat dari cinta. Cinta itulah yang merupakan (menyerupakan) dirinya menjadi sebuah ketakutan. Cinta itu kerap kali berupa putus harapan, takut, cemburu, iba hati dan kadang-kadang berani. (Namun) terkadang cinta itu hanya menurutkan perintah hati, bukan perintah otak.

Emas tak setara dengan loyang. Sutra tak sebangsa dengan benang.

Karam rasanya bumi ini saya pijakkan. Gelap tujuan yang akan saya tempuh.

Bahwasanya air mata tiadalah ia memilih tempat untuk jatuh. Dan tak pula memilih waktu untuk turun.

Dahulu diriku telah berduka, sekarang berduka cita. Dan kelak agaknya akan terus berduka hati.

Cinta itu adalah persaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia. Ia (cinta itu) laksana setetes embun yang turun dari langit. Bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlainan menerimanya. Ada kepada tanah yang tandus atau gersang. Dan ada pula kepada tanah yang subur.

Bahwasanya cinta yang bersih dan suci (murni) itu, tidaklah tumbuh dengan sendirinya.

Untung dan bahagia sejati adalah jika kita tahu bahwa kita tidak hidup terbuang di dalam dunia ini. Tetapi ada orang (lain) yang mencintai kita (yaitu: Allah SWT, nabi SAW dan kedua orang tua kita).

Hanya menumpahkan air mata itulah kepandaian yang paling penghabisan bagi seorang wanita.

Satu hati lebih mahal dari pada senyuman. Satu jiwa lebih berharga dari pada sebentuk cincin.

Tidak ada seutas tali pun tempat saya bergantung selain dari pada tali Engkau ( ya Allah). Tidak ada satu pintu yang akan saya ketuk, lain dari pada pintu Engkau (ya tuhanku).

(Wahai bundaku): " hidupmu yang tiada mengenal rasa putus asa. Kesabaran dan ketenangan hatimu (dalam) menanggung sengsara. Dapatlah kiranya menjadi tamsil dan ibarat kepada kami".

Dari buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck:

Bukit putus rimba keluang
Di rendam jagung dihangusi

Hukum putus badan terbuang

Terkenang kampung kutangisi

Ilmu apakah yang saya dapatkan disini, negeri ini begitu sempit, dunia terbang akhiratku pergi.

Pepatah orang Makassar: " Anak lelaki tak boleh dihiraukan panjang. Hidupnya ialah untuk berjuang. Jikalau perahunya telah ia kayuh ketengah, ia tak boleh bersurut pulang. Meskipun bagaimana besar gelombang. Biarkan kemudi patah, biarlah layer robek. Itu lebih mulia (baginya) dari pada membalik haluan pulang.

Pantun-pantun Buya Hamka:

Pulanglah kapal dari Mekkah

Penuh muatan orang haji

Awas-awas engkau melangkah

Memetik bunga dalam duri

Hendak tahu dibaik orang

Tanyakan kepada kawannya

Hendak tahu diburuk orang

Tanyakan kepada lawannya

Kupas dasun di dalam belanga

Rama-rama bertali abuk

Upas racun kiranya dunia

Makin lama makin memabuk

Pulau pandan jauh di tengah

Di balik pulau Angsa dua

Hancur badan dikandung tanah

Budi adik terkenang jua

Anak kandung jangan menangis. Orang penangis lekas rabun. Orang penggamang mati jatuh. Orang pemarah tanggal iman dan pehiba hati lekas tua.

Dari buku Kenang-kenangan Hidup, Jilid 3.

putus tali layang-layang

robek kertas tentang bingkai

hidup nan jangan menyepalang

tidak kaya berani pakai

wahai diriku teruslah maju

di tengah jalan jangan berhenti

sebelum ajal janganlah mati

keredhaan Allah itulah tuju

hati yang luas tak bertepi

cinta yang dalam tak terajuk

kau minta permadani

padaku hanya tikar pandan

awan berarak kabut berserak

di bunga yang mekar pagi

di bayang fajar menyingsing

di embun menyentak naik

di ombak memukul karang

di riak menghempas diri

di oleng biduk nelayan

di layer perahu jauh

di kepul asap jerami

di awan arak-berarak

di langkah ternak beriring

di uban menjuntai kening

di pudding yang panca warna

jauh tidak berantara

dekat tak bersatu

ragu hati rembang mata

warna-warni kembang di taman

senyum simpul mengajuk jantung

kungkung jiwa atasi nafsu

jangan murung terkatung-katung

pilih satu terima untung

hidup insani dilingkung batas

hidup hewan yang lepas bebas

biarkan orang tumbuh menurut alamnya

kalau tidak naik membubung, biarlah mati tersungkur.

Dari pepatah Minang: " suka yang tidak boleh ditukar, malu yang tidak boleh dibagi.

Beras yang putih untuk Jepang

Di kita jagung campur ubi

Banyak bicara kena lampang (kena tampar)

Kalau melawan hukum mati

Apalah artinya saya, memasang lilin di dekat kampu-lampu besar yang menyala-nyala. Menyinarkan terangnya diseluruh alam Indonesia.

Kalau berhembus angin selatan

Jangan lekas riang gembira

Kalau bergoncang tali bubutan

Jangan lekas berputus asa

Selama nyala iman di dada

Panah tujuan tidaklah hilang

Tuhan Allah tetaplah ada

Tanah airku tetap menang

Maka berbicaralah dia sepatah demi sepatah. Tenang tapi berombak. Lambat tapi bergelombang.

Rupanya mengapa Bung Karno begitu mengena pidatonya di tiap rakyat dan negeri! Sebab, di tiap negeri yang ia datangi, amat pandai ia mengarang pujian untuk orang dan negeri (tempat ia berpidato itu). Maka pidatonya pun diterima dengan senang hati dan (tepuk tangan) gemuruh oleh Rakyatnya.

Pandang tenang hadap ke muka.

Hilang segala kepayahan

Hilang segala kepenatan

Lupa segala penderitaan

Malam atau siang sembunyi atau tenang.

Saudara; kebesaran bukanlah karena ilmu. Meskipun keturunan dan ilmu boleh (dapat) dijadikan alat untuk menempuh kebesaran. (Sesungguhnya) kebesaran itu adalah kesanggupan seseorang dalam mengatasi kesulitan zamannya dan (ia) muncul di waktu-waktu yang tepat.

Orang politik, adat dan agama harus disatukan untuk bersatu menghadapi kesulitan.

Akal tak pernah hilang dan semangat tak pernah patah walaupun badan tak berdaya.

Sebuah nasehat Buya Hamka kepada istrinya tercinta disaat bahaya kelaparan melanda Sumatra Barat di Zaman Paceklik:

Kalau Allah tidak izinkan kita lagi untuk tinggal di dunia ini, tentu kita mati. Tetapi kalau masih beleh hidup, (maka) kita akan makan.percayalah.

Sebuah pepatah dari Sumatera Barat: " di waktu kesawah cangkul berlebih. Di waktu hendak makan piring kurang.

Demikian pulalah yang kerap terjadi di masyarakat, karena kelalaian memperhatikan sebab yang kecil, (maka) tumbul bahaya yang besar.

Taqdir itu bukanlah dielakkan melainkan dicari.

Pendirian hidup (adalah) lebih baik kita memperbaiki sangka kepada tuhan.

Mendarurat

Bebankulah sarat

Tapi cinta Negara lebih berat

Biar kaki tinggal sekerat

Kulanjutkan juga biar larat

… bila kemerdekaan telah berurat

… bila persatuan telah kokoh erat

Bahagialah aku dikala tidur di jirat (di kubur)

Bercahaya mukaku di akhirat

Dari kanan aku menerima surat

…aku menyerah kepada Engkau (wahai) tuahanku dengan tidak bersyarat.

Sesak nafasku kala mendaki, keringat mengalir sampai ke kaki.

Kita masih hidup, udara masih kita hirup dan nafas belum redup.

Dua cahaya menembus kegelapan. Yaitu cahaya iman dan cahaya harapan.

Selama-lama mendaki, kita (juga) akan menurun ke padang datar. Ke pengharapn yang besar

Mari kita isi saat sedetik itu dengan kesan, sebutan dan kenang-kenangan.

Jika kering danau Singkarak

Maninjau ada tempatmu mandi

Minang Kabau iring berarak

Menuju takhta ibu pertiwi

Kata Hamka saat ia menyampaikan perkataan Bung Karno:

Membangun tanah air, sesudah mencapai kemerdekaan, akan lebih sukar dari pada semasa refolusi. Segala lapangan akan memerlukan banyak orang. Sedang kemerdekaan tanah air adalah jembatan emas (untuk) menuju cita-cita.

Yang membentuk pribadi dan diri kita: penyakit, penderitaan, pengalaman, kegagalan, kejatuhan dan juga kenaikan.

Pantun ini dikutip oleh Buya Hamka dari buku Rancak Di labuah, karangan: Datuak Panduko Alam.

Ini merupakan pantun masyarakat Sumatera Barat yang Hamka kutip di masa pendudukan Jepang.

Ini merupakan ungkapan Hamka disaat berpidato di depan rakyat di Sumatera Barat , Muhammad Hatta, Amir Syarifuddin dan Syahrir.

Ini merupakan pujian yang Hamka ungkapkan terhadap retorika Suekarno bila ia berpidato.

Memang cara ini merupakan sebuah metode yang bagus dalam berpidato dihadapan ummat di tiap negeri yang berbeda.

0 komentar:

Posting Komentar

Kotak Pesan

Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template